Pesan Hari Tari Dunia 2013
oleh: Lin Hwai Min, Pendiri/Direktur Artistik Cloud Gate Dance Theatre, Taiwan.
Lin Hwai Min
Dikatakan dalam tulisan Pendahuluan dari buku "The Book of Songs," antologi puisi Cina yang berasal dari 10 hingga abad ke-7 SM:
"Emosi bergerak dan membawa bentuk kata-kata.
Jika kata-kata tidak cukup, kita berbicara dalam desahan.
Jika mendesah tidak cukup, kita menyanyikannya.
Jika menyanyi tidak cukup, maka secara tidak sadar
tangan kita menarikan emosi dan kaki kita menekan emosi itu. "
Bahasa bukan sekedar deretan huruf dan kata-kata yang
terangkai menjadi kalimat. Bahasa yang terdiri dari goresan-goresan garis yang
membentuk simbol-simbol yang nempunyai makna dan nilai komunikasi seperti
kaligafi Arab, Cina, Jepang, Korea, Pali, Sansekerta dan Jawa, bukan hanya
sekedar kumpulan garis, melainkan mengandung peristiwa kehidupan, nilai, makna, dan pergulatan identitas kultural dari suatu
bangsa.
Kaligrafi aksara Jawa, alat komunikasi masyarakat Jawa di
masa lalu kini sudah bukan menjadi
bagian yang penting bagi kehidupan masyarakat Jawa sekarang. Kaligrafi Jawa
kini sudah menjadi artefak atau hanya digunakan untuk tulisan di souvenir atau
hanya menjadi tulisan nama jalan atau hanya penanda identitas Jawa.
Aksara Tubuh
Aksara
Jawa dalam konteks sebagai bagian Indonesian
cultural heritage, menjadi inspirasi ide karya tari oleh koreografer Bobby Ary Setiawan yang sekaligus pimpinan grup tari Independent
Expression - dengan judul Aksara Tubuh.
Menurut Bobby, penulisan aksara Jawa mempunyai keunikan, sama halnya
dengan membuat tulisan kaligrafi Arab, Cina,
penulisan aksara jawa perlu tekhnik khusus yang harus dipelajari, tebal
tipisnya garis dan juga pemaknaan yang terkandung didalam setiap huruf menjadi
cermatan yang hendak dipelajari lebih dalam oleh koreografer.
Memperingati Koreografi Kehidupan yang Tiada Akhir
oleh Sidi Larbi
Cherkaoui
Melalui waktu, melalui usia,apa
yang bertahan
adalah sebagian besarseni.Senitampaknya menjadidaunumat
manusia, yaitu segala sesuatu untuk diwariskan- apakah
warisan melaluibangunan, buku, lukisan, musik, gerakan, atau tarian.Dalam hal ini, saya pikir tariansebagai warisan yang terkini, pelajaran sejarah paling up-to-date, karena tarian terhubung secara konstan denganmasa laluyang terkinidan
hanyabisa terjadidi masa
sekarang.
Hidup saya, saya ingin terus dan selalu belajar mencari pengalaman dan menggali potensi saya tanpa harus mengenal lelah,dan selalu berpikir positif terhadap hidup di dunia seni. Karena saya yakin hidup di dunia seni itu pasti ada nilai positif dan negatif.
Cahwati belajar menari sejak usia 15 tahun saat masuk Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI) Banyumas. Awalnya ia berniat belajar tarik suara, karena saat itu tidak ada murid laki-laki di jurusan tari, akhirnya ia masuk jurusan tari dan uniknya ia masih belum bisa menari.
Pentas Sendra Tari dan Musik ‘Dewi Sri’ oleh sutradara Dartok Kuswandi dalam Festival Gambuh Condro Purnomo bertema ‘Padi Kebudayaan yang Hidup’, pada:
Hari : Jumat, 24 Februari 2012
Pukul : 19.00 wib
Bertempat di : Dewan Kesenian Kota Mojokerto, Jl. Gajah Mada 149 Mojokerto.
Penyelenggara : Dewan Kesenian Kota Mojokerto & Bag.Administrasi Pembangunan Sekdakot
Tari Beskalan adalah tari putri yang tumbuh dan berkembang di daerah Malang. Keberadaannya dengan seni pertunjukan Andong (sejenis tayub) yang populer di Malang. Sekitar awal abad ke-20 tari Beskalan juga digunakan untuk ritual penghormatan roh-roh leluhur baik di punden-punden desa maupun di tempat air (babakan).
Bermain tari bantengan bagi mereka bisa dikatakan suatu proses pendidikan informal. Kegiatan itu juga mruepakan proses belajar, menghidupkan kecerdasan emosi – melatih koordinasi gerak tubuh, membangun imajinasi, belajar bekerjasama antar-individu dan mmebaca ruang. Kehidupan otak kanan anak-anak kurang diapresiasi dalam pendidikan formal.
Ketika, saya, Danial Ahmad, DaniIswardana Wibowo dan Abdul Malik mengunjungi peringatan seribu harinyaalmarhum Soetrisno, maestro pembuat topeng Malang pada 29September 2011 lalu , diDukuh Glagahdowo, Desa Pulungdowo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, sekitar jam 5 sore, ada sesuatu yang menarik melihat anak-anak bermain menirukan tari bantengan.Saya menyaksikan, tanpaada orang dewasa yang melatih, anak-anak secara spontan berkumpuldan mengatur sendiri bermain tari bantengan tiap hari di sore hari.
Kepada para penari dan koreografer di mana pun anda berada, silahkan gabung Djawa Dance Network (situs berbahasa Inggris), klik: http://www.djawadancenetwork.com
Promosikan karya tari terbaru anda di situs ini. Djawa Dance Network adalah situs di mana penari dan koreografer untuk bertemu, sharing dan mempromosikan karya tari terbaru anda. Jika anda sudah gabung, data anda akan tersimpan sebagai data direktori tari yang bisa diakses oleh para penari dan koreografer dari dalam negeri Indonesia maupun mancanegara.
Silahkan berinteraksi dan membangun kreativitas tari anda di http://www.djawadancenetwork.com
Dance Box membuka Program Residensi Tari yang akan diselenggarakan pada Januari – Maret 2012., suatu program residensi yang diperuntukkan untuk penari, koregrafer, akademisi, dan seniman di bidang apa saja yang terkait dengan tari.
Dalam residensi ini, Dance Box bekerja sama dengan Art Theater dB KOBE, Studio dB Kobe, Studio dB Kobe-loft and Mizuru RB (Yashima Art Port).
Dance Box dalam program ini menekankan terutama pada ekperimentasi dan proses rehearsal daripada hasil akhir dari seniman.
Tubuh adalah esensi keindahan dari tari. Tubuh yang diam dan bergerak akan terasa keindahan terdalamnya jika ada suatu rasa (greget orang Jawa bilang atau taksu menurut orang Bali). Rasa itulah yang menjadi sumber energi penggerak yang diperoleh dari penghayatann hidup sehari-hari dan proses latihan tari yang panjang. Gerakan yang indah belum tentu mempunyai rasa. Menghadirkan rasa dalam tari, juga menghadirkan keindahanNya dalam tubuh penari. Hanya dengan duduk, tepuk tangan dan tepukan tangan pada tubuh dan tidak menggerakkan kaki seperti tari pada umumnya, Tari Saman mampu menghadirkan rasa. Puncak keindahan tari Saman adalah tubuh yang musikal.
Tari Tayub adalah tari pergaulan di masyarakat Jawa. Tari ini sering diadakan pada acara hajatan pernikahan, khitanan, dan lain-lain. Secara etimologi tari Tayub dalam bahasa Jawa bermakna ‘ditata ben guyub’ (ditata agar tercipta kerukunan).
Eko Ujang Kusan Dariadi yang akrab dipanggil Eko Ujang (38) adalah penari dari Kabupaten Malang yang setia menggeluti tari topeng Malang hingga kini. Ia mulai menari sejak usia 16 tahun. Menurutnya, ia merasa terlambat untuk belajar tari topeng, karena dulu awalnya tidak tertarik untuk menari topeng. Selain itu kelompok topeng di desanya hanya untuk orang dewasa saja, tidak ada kelompok anak anak.Awalnya, ia belajar tari topeng di Sanggar Asmorobangun milik mbah Karimun (Alm, maestro penari topeng Malang) yang betempat di Desa Pakisaji, Kabupaten Malang.
Bagian terbesar sejarah tari umat manusia terjadi di ruang terbuka. Orang-orang berkumpul di lapangan yang luas di tengah hutan, halaman desa, halaman gereja atau pintu masuk ruangan, untuk menikmati tari selama berjam-jam sampai selesai. Sekarang tari kebanyakan diadakan di ruang dansa, klub, teater, gedung sekolah, studio dan diskotik.