Kamis, 23 Februari 2012

Saatnya Arema Punya Museum Sepak Bola

Stadion Malang (1938)

Saya ingat pertemuan saya dengan almarhum drg. Oei Boen Thong pada 2003 di rumahnya kawasan Taman Slamet, Malang. Ia bercerita bahwa Malang pada tahun 1938 merupakan salah satu kota terindah di dunia, pada tahun 1938 dan stadion Gajayana Malang merupakan stadion tertua di Indonesia, dibangun pada 1924 dan mulai dipergunakan pada tahun 1926. Saya baca laporan Walikota Malang zaman kolonial tahun 1938 yang berbahasa Belanda tentang pembangunan stadion Malang. Luar biasa, begitu rinci catatan itu, misalnya pembelian pasir, batu bata, pembebasan tanah dan lain-lain, yang menelan biaya ribuan gulden  tercatat dengan rinci dan transparan. 



Sayang, salinan buku tersebut tertelan banjir di rumah orang tua saya di Pasuruan.    


Dari sejarah bangunan stadion Gajayana Malang yang merupakan kebanggaan warisan budaya (heritage) Malang, tak mengherankan masyarakat Malang sangat akrab dengan tradisi sepak bola. Dari tahun 1926 itu tradisi sepak bola di Malang bermula.   Jika kita ke warung-warung, kafe, pasar tradisional di Malang, obrolan masyarakat Malang a selalu tak lepas dengan sepak bola.

Sepak bola di Malang sudah seperti teater rakyat – penonton menghidupkan pemain dan sebaliknya pemain menghidupkan penonton. Bahkan penonton pun rela mengambil risiko memanjat pohon untuk untuk melhat laga para aktornya bermain dan berkelahi demi tim sepak bolanya. Tak mengherankan masyarakat Malang begitu fanatik dengan klub sepak bolanya, entah Arema Indonesia ataupun Persema.

Yang menjadi kegelisahan saya, mengapa Arek-Arek  Malang (Arema) tidak menggagas membuat museum sepak bola. Sudah saatnya Arek-Arek Malang punya museum sepak bola! Bukankah segudang prestasi Arema Indonesia dan Persema sudah pernah diraih? Museum sepak bola ini penting bagi keberlangsungan perkembangan sepak bola Malang di masa depan dan penting bagi generasi penerus sepak bola di Malang untuk mengetahui sejarahnya.

Untuk renungan, silahkan lihat museum sepak bola Liverpool di link youtbe ini:

The National Football Museum di Inggris

Japan Football Museum

Saya melihat keguyuban dan ikatan emosional yang kuat pada supporter sepak bola Malang, pasti mempunyai kekuatan dan semangat luar bisa untuk mengggagas dan mewujudkan  pendirian museum sepak bola.

Jika konco-koncoku Arek Malang punya waktu, pandanglah stadion Gajayana dari kejauhan dengan agak lama dan renungkan. Stadion Gajayana itu bukan benda mati, melainkan ada peristiwa kebudayaan di balik bangunan tua itu – jatuh bangun pemain dan penonton dari masa ke masa demi menciptakan sejarah sepak bola yang harus dpersembahkan ke masyarakat Malang. Berapa pemain sepak bola Malang yang berprestasi, tak pernah mendapat penghargaan, dilupakan begitu saja???

ayo rek, semangat gawe museum balbalan dek malang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar