Rabu, 14 Maret 2012

Cahwati: Setia Lestarikan Tari Lengger

Cahwati




Hidup saya, saya ingin terus dan selalu belajar mencari pengalaman dan menggali potensi saya tanpa harus mengenal lelah,dan selalu berpikir positif terhadap hidup di dunia seni. Karena saya yakin hidup di dunia seni itu pasti ada nilai positif dan negatif. 









Cahwati belajar menari sejak usia 15 tahun saat masuk Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI) Banyumas. Awalnya ia berniat belajar tarik suara, karena saat itu tidak ada murid laki-laki di jurusan tari, akhirnya ia masuk jurusan tari dan uniknya ia masih belum bisa menari.


Saat masuk SMKI itulah Cahwati baru belajar menari dan mempelajari tarian Banyumasan dan yang pertama kali dipelajari adalah tari Lengger Gunung Sari.  “Tari Banyumasan yang dikenal dengan nama Lengger sangat menarik bagi saya, karena ternyata tarian lengger sendiri mempunyai warna yang lain. Tarian  ini lebih eksotis, energik, dan mempunyai kekuatan sendiri saat menari dengan menyanyi. Lengger selalu bergerak dengan nyinden, berbeda dengan tarian lain. Kalau tarian lain kebanyakan menari dulu,  berhenti baru nembang, jadi ada luang waktu untuk mengatur napas dan bisa mengindahkan suara. Kalau Lengger harus pintar-pintar mengatur napas disaat nari dan nyinden/nembang, dan itu wajib dimiliki oleh setiap penari lengger,” ungkapnya.

Awalnya Cahwa sulit belajar menari Banyumasan.  Karena ia harus menghafal gerak, tetapi setelah ia pelajari ternyata ia lebih cepat menghafal gerak lewat pukulan kendang. Menurutnya gerak tari Lengger di akademis dan Lengger pada umunya berbeda. Kalau di akademis lebih tertata geraknnya, sedang Lengger pada umumnya lebih pada kenyamanan menari. Semula dari pihak keluarga melarang Cahwati belajar tari, justru mereka mendukungnya belajar vokal. Namun pada akhirnya, orang tua Cahwati mau memahami dan mengerti apa yang terbaik bagi Cahwati. Bahkan masyarakat sekitar sangat welcome ketika Cahwati mengadakan pertunjukan di lingkungan masyarakat.

Proses kreatif
Selain belajar tari Banyumasan, Cahwati juga mempelajari tari Jawa, Bali, Jaipong, dan mempelajari tari kontemporer juga. Memang ia tipikal orang yang terbuka belajari tari apapun. Terdorong oleh motivasi yang kuat untuk memperdalam studi tari, ia menempuh studi tari di ISI Surakarta, yang berawal dari ajakan teman-temannya. Sempat juga mau pindah ke jurusan karawitan, karena lebih banyak aktivitas nyanyinya daripada tari.  Namun dalam perspektif Cahwati,  tari sangat penting karena setelah ia  tahu dan bisa menari ternyata tari juga memiliki keindahan. “Dan kita bisa merasakan dan bisa melihat suatu fenomena yang digarap lewat tari. Tari penuh dengan  ekspresi dan lebih banyak oang memahami tentang tari,” ujar Cahwati.

Dalam membuat karya tari, ia selalu bertumpu pada akar tradisi tarian Lengger dan pada potensi dasar yang ia punya dan selalu membuka kemungkinan-kemungkinan baru – unsur gerak tari kontemporer dan tradisi lain.

Cahwati juga punya group tari ‘Pring Sarrentet’.. Adapun motivasinya mendirikan group tari ‘Pring Sarentet’ adalah  ingin mengembangkan kesenian Banyumasan di daerah yang berbeda dan ingin mengenalkan pada masyarakat lain bahwa ada kesenian rakyat Lengger Banyumasan yang selama ini belum banyak orang tahu. Dan ternyata masyarakat  sangat senang dan antusias melihat kesenian rakyat Banyumasan khususnya Lengger.

“Saya seorang vokalis tapi bukan sinden, karena setahu saya sinden itu lebih menyanyi pada tembang-tembang Jawa, tetapi saya juga bisa menyanyikan tembang-tembang  jawa dan nggak semua saya bisa nyanyi Jawa. Prosesnya mengalir untuk belajar sampai menjadi vokalis, sering diajak pentas bantu seniman-seniman Solo,seperti Slamet Gundono, Max bBaihaqi, Dedek Wahyudi, Garin Nugroho,dan lain-lain,” tegas Cahwati.

Memang dari awal masuk ISI Surakarta sampai sekarang, ia lebih banyak aktivitas nyanyinya daripada pada menari. Tapi beberapa waktu  terakhir ini ia sering juga diajak proses menari dengan beberapa koreografer ternama, diantaranya Sen Hea Ha, Eko Supriyanto, S.Pamardi, Rini Endah, Dedy Luth`n, dan sutradara film Garin Nugroho, dan lain-lain.

Dalam perjalanannya di dunia tari, delapan karya tari telah ia ciptakan - Nak,Sang Nak,You And Me, Banjaran Ronggeng Dukuh Paruk,Lengger Dukuh Paruk,Senggot,Sensuality Of Lengger,Ronggeng Manis,Mendat. Dalam karya-karyanya, Cahwati selalu menggabungkan unsur gerak tari dan vokal berupa tembang yang jarang dilakukan koreografer lain.

Perspektif seni
Pendapatnya tentang dunia tari di Indonesia, mengatakan, bahwa ia bangga akan kekayaan seni tari di Indonesia,sehingga banyak orang asing yang mengagumi seni budaya Indonesia, terutama seni tari dan banyak pula dari mereka yang mempelajari seni tari khususnya Jawa,tetapi sayang sekali mereka hanya tahu tentang seni tari Jawa dan Bali.  Padahal ada banyak seni tari di Indonesia yg menarik juga untuk  perlu mereka ketahui. “Dan saya justru prihatin juga terhadap orang-orang Indonesia yang kurang memperhatikan dan jarang  mempelajari akan adanya seni dan kebudayaan Jawa,” papar Cahwati.

Kepenarian seseorang tak lepas dari peran guru tarinya. Bagi Cahwati, semua guru tarinya ia kagumi dan berpengaruh pada dirinya. Namun menurutnya, pengalaman adalah guru yang paling sejati, paling berharga dan sangat berpengaruh bagi dirinya. “Karena belajar dari pengalaman jugalah saya jadi lebih banyak tahu tentang tari dan itupun masih ada banyak yang harus lebih saya pelajari, saya tidak menutup kemungkinan sebelum saya mendapatkan pengalaman. Saya juga sudah banyak menelan ilmu dari ISI Surakarta. Jadi tanpa saya belajar dari ISI belum tentu jg saya menjadi seperti ini,” ujar Cahwati.

Selanjutnya ia mengatakan suatu prinsip hidupnya dalam dunia seni:  Hidup saya, saya ingin terus dan selalu belajar mencari pengalaman dan menggali potensi saya tanpa harus mengenal lelah,dan selalu berpikir positif terhadap hidup di dunia seni. Karena saya yakin hidup di dunia seni itu pasti ada nilai positif dan negatif. (apw)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar